Resume Materi PKKMB Day 2 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA)
Generasi Musa Berintegritas Anti Korupsi
Oleh Bpk. Dr. Murul Gufron, S.H., M.H.
Korupsi bukan hanya soal uang, melainkan juga merusak sumber daya manusia, menghancurkan harapan bangsa, dan mewariskan beban pada generasi berikutnya. Banyak pejabat yang menyalahgunakan jabatan hingga berdampak pada hancurnya pasar, persaingan usaha sehat, proses demokrasi, bahkan menurunkan kualitas hidup masyarakat.
Bentuk korupsi bisa kecil maupun besar, mulai dari praktik pungli di jalan hingga penyuapan dalam proyek besar. Intinya, korupsi adalah penyalahgunaan kewenangan dan fasilitas rakyat untuk kepentingan pribadi. Ironisnya, banyak pelaku korupsi justru lulusan pendidikan tinggi, menunjukkan bahwa kecerdasan tanpa integritas hanya melahirkan kerusakan.
Untuk melawan korupsi, kita perlu membangun karakter patriotis: cinta tanah air, rela berkorban, menjaga persatuan, menghargai perbedaan, sederhana, dan mandiri. Edukasi, sistem yang baik, serta keterlibatan masyarakat menjadi kunci.
Nilai-nilai anti korupsi yang harus ditanamkan sejak dini antara lain:
Jujur
Peduli
Mandiri
Disiplin
Tanggung jawab
Adil
Berani
Sederhana
Kerja keras
Seperti pesan Ali bin Abi Thalib: “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, sungguh mereka akan menghadapi masa depan yang berbeda dengan zamanmu.”
Mahasiswa UNUSA sebagai Generasi Ahlusunah wal Jamaah
Oleh: K.H. Muhammad Ma’ruf Khozin
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, umat Islam terpecah menjadi tujuh golongan. Namun, Allah SWT menegaskan bahwa golongan yang selamat adalah mereka yang tergolong dalam Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja).
Istilah Ahlusunnah wal Jamaah sendiri terbentuk dari tiga komponen penting:
Ahlun: para pengikut.
Al-Sunnah: jalan atau metode beragama yang diwariskan Rasulullah dan para sahabat yang diridhai Allah.
Al-Jamaah: umat islam
Dengan demikian, Aswaja adalah jalan beragama yang berpijak pada teladan Rasulullah dan sahabatnya, serta menjadi pegangan utama dalam menjaga kemurnian ajaran Islam.
Mayoritas umat Islam terbesar di dunia terdapat di Pulau Jawa, di mana penganut empat madzhab yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali menjadi kekuatan utama. Inilah yang disebut dengan “Assawadul A’dzom”, yaitu golongan mayoritas yang menjaga kesatuan umat.
Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari atas restu dan dorongan Syaikhona Kholil, menjadi salah satu penjaga utama ajaran Aswaja di Indonesia. NU menanamkan pola pikir dan sikap khas yang meliputi:
Fikrah Tawassuthiyyah: berpikir moderat.
Fikrah Tasamuhiyah: bersikap toleran.
Selain itu, NU juga mengajarkan pentingnya cinta tanah air sebagaimana semboyan “Hubbul Wathan Minal Iman”(cinta tanah air adalah sebagian dari iman). Prinsip ini menegaskan bahwa keberagamaan tidak bisa dipisahkan dari rasa cinta dan tanggung jawab terhadap bangsa.
Sebagai bagian dari NU, mahasiswa UNUSA dituntut untuk menjadi generasi penerus yang menjunjung tinggi ajaran Aswaja. Mereka bukan hanya belajar ilmu akademis, tetapi juga memegang teguh nilai-nilai keislaman yang moderat, toleran, dan cinta tanah air. Dengan begitu, mahasiswa UNUSA diharapkan mampu menjadi benteng ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin serta kontributor penting bagi persatuan dan kemajuan bangsa.
Pengenalan Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L)
Oleh: Muslikha Nourma Rhomadhoni, S.KM., M.Kes
Penerapan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan (K3L) memiliki peran penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas. K3L bukan sekadar kewajiban, tetapi juga kebutuhan agar aktivitas kerja dan kehidupan sehari-hari berjalan aman, sehat, dan produktif.
Tujuan Penerapan K3L
Mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
Melindungi lingkungan dari pencemaran serta kerusakan.
Meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan bersama.
Prinsip Dasar K3L
Pencegahan lebih baik daripada penanggulangan.
Kepatuhan regulasi, seperti UU K3, UU Lingkungan, dan PP No. 50/2012 tentang SMK3.
Penguatan budaya keselamatan berkelanjutan.
Pemanfaatan teknologi hijau yang ramah lingkungan.
Penerapan prinsip ini memerlukan partisipasi semua pihak: pemerintah, perusahaan, pekerja, dan masyarakat.
Pentingnya Safety Induction
Dimanapun berada, penting mengikuti safety induction untuk memahami jalur evakuasi dan prosedur keselamatan. Kepatuhan terhadap SOP ruangan menjadi langkah awal agar kita bisa selamat menghadapi musibah maupun kecelakaan.
Mengenali Bahaya dan Mengendalikan Risiko
Bahaya adalah segala sesuatu yang berpotensi menimbulkan kerugian, cedera, penyakit, atau kerusakan. Contoh jenis bahaya antara lain:
Fisika (kebisingan, panas, radiasi)
Kimia (paparan zat berbahaya)
Biologi (virus, bakteri, jamur)
Mekanik (mesin, peralatan tajam)
Psikososial (stres, tekanan kerja)
Bahkan di lingkungan rumah atau kos mahasiswa, risiko tetap ada seperti korsleting listrik, kebakaran, terjatuh, hingga keracunan.
Prinsip 5R untuk Pengendalian
Untuk menjaga keselamatan, terapkan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) atau versi Jepangnya 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke).
Kewaspadaan di Jalan
Keselamatan juga berlaku saat berkendara. Risiko kecelakaan dapat muncul karena:
Menggunakan HP saat mengemudi.
Berkendara dengan kecepatan tinggi.
Membawa penumpang melebihi kapasitas.
Seperti pepatah: “Berhati-hati datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa berasal dari setan.”
Dengan memahami K3L, kita bisa membangun budaya aman, sehat, dan peduli lingkungan sejak dini, baik di kampus, tempat kerja, maupun kehidupan sehari-hari.
dan kunjungi sosial media UNUSA
Facebook : https://www.facebook.com/unusaofficialfb
https://www.instagram.com/unusa_official/
Youtube : https://www.youtube.com/@unusa_official
Twitter ( X ) : https://x.com/unusa_official?lang=en
Tiktok : https://www.tiktok.com/@unusa_official

Komentar
Posting Komentar