Resume Materi PKKMB Day 1 Univrsitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA)
Zahra Amelia Dewi Gunawan (Zamel) — mahasiswa Gizi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) semester akhir sekaligus owner Zamel Baking Studio yang sukses Jadi Entrepreneur Muda
Zamel menjadikan ilmunya
sebagai fondasi bisnis. Ia fokus pada healthy dessert, seperti cake
gluten-free dan less sugar, bahkan dilengkapi dengan nutrition facts, nilai gizi yang jarang ditemukan di produk sejenis.
Bisnisnya bukan hanya menjual kue, tapi menjual jasa yakni kelas baking
yang dikemas menarik. Salah satu yang paling unik adalah kelas
membuat kue Thailand sehat yang dimodifikasi dari resep tradisional
menjadi lebih bergizi dan tahan lama.
Tiga Pilar Sukses ala Zamel
Zamel membeberkan tiga pilar utama yang menjadi kunci
keberhasilan usahanya:
- Menentukan
Market
- Fokus
pada niche market seperti pelanggan yang peduli kesehatan dan
edukasi baking.
- Membangun
komunitas WhatsApp aktif dengan lebih dari 900 anggota yang selalu
menantikan kelas terbarunya sering kali sold out dalam hitungan
menit.
- Sikap
Mental Pengusaha
- Tekun,
optimis, berani ambil risiko, dan menjaga loyalitas konsumen.
- Menyadari
bahwa semua orang bisa memulai bisnis, tapi hanya yang konsisten yang
akan bertahan.
- Konsistensi
adalah kunci, apalagi ketika pasar mulai bosan. Inovasi dan keberanian
untuk mengevaluasi diri menjadi penting.
- Relasi
& Tim
- Zamel percaya bahwa bisnis tidak bisa dijalankan sendiri. Ia membentuk tim dari teman-teman sesama mahasiswa Gizi yang memiliki semangat yang sama. Ia juga menekankan bahwa pelanggan loyal datang bukan dari teman dekat, tapi dari jaringan luas yang dibangun lewat media sosial dan komunitas.
Moto Hidup Zamel
- Learning
by Doing. Belajar sambil praktek, siap trial & error.
- Rezeki
Tidak Akan Tertukar. Jangan takut ditiru; yang penting terus
berkembang dan berinovasi.
- Fokus pada Branding, Bukan Sekadar Untung. Di 5 tahun awal, tujuan utamanya adalah membentuk reputasi dan identitas brand, bukan hanya keuntungan materi.
“Semua orang bisa memulai bisnis. Tapi hanya mereka yang
konsisten dan berani berinovasi yang akan bertahan.” – Zamel
reativitas: Kunci Melihat Peluang dan Menang di Era
Digital
Di tengah berkembangnya teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, muncul pertanyaan penting: mengapa layanan seperti GoFood, GrabFood, atau ShopeeFood bisa begitu populer dan sukses? Jawabannya sederhana namun kuat. Karena mereka melihat peluang dari kenyataan sehari-hari yang sering dianggap sepele dan enteng.
Layanan-layanan digital ini muncul dari dua masalah utama di
masyarakat:
- Kemalasan
atau keinginan masyarakat akan kemudahan. Banyak orang ingin serba
instan, malas keluar rumah, apalagi saat cuaca panas. Mereka hanya ingin
klik aplikasi, makanan datang.
- Tingginya
angka pengangguran. Banyak orang butuh pekerjaan, tapi tak semua bisa
kerja di pabrik atau kantor.
Solusinya? Ciptakan sistem di mana orang bisa dibayar untuk mengantarkan makanan dan lahirlah platform layanan pesan-antar seperti pada era saat ini.
Kreativitas Itu Menguasai Dunia. Apa kesamaan dari para pencetus ide-ide brilian ini? Mereka
berpikir kreatif. Mereka tak menunggu dunia berubah mereka menciptakan
perubahan.
Beliau mengatakan bahwa negara Manila tidak pernah menyebut musim panas dengan musim kemarau, tapi mereka rentan menyebutnya dengan summer, karena di identifikasikan dengan sebuah kebahagiaan atau kegembiraan. Karena, pada musim tersebut banyak sekali yang menikmati musim summer untuk holiday denga pergi ke pantai walau hanya sekedar untuk berjemur.
Salah satu bentuk bullying yang sering tak disadari adalah perundungan sosial. Contohnya:
-
Menghasut teman lain untuk menjauhi seseorang.
-
Membentuk geng eksklusif dan mengucilkan teman yang dianggap "berbeda".
-
Menyebarkan cerita buruk agar orang lain juga membenci target.
Yang lebih menyedihkan, kadang korban sendiri tidak sadar bahwa ia sedang dirundung. Mereka mungkin berkata:
“Biarin aja, saya juga nggak butuh mereka.”
“Saya fine-fine aja kok, nggak masalah.” Ujar beliau.
Guru BK dalam kasus ini mengambil langkah yang tepat, tidak menilai berdasarkan apakah anak tersinggung atau tidak, tapi berdasarkan fakta dan pola sosial yang merugikan.
Bullying bukan hanya tentang “sakit hati”.
Bullying adalah tentang tindakan sistematis yang menciptakan ketidakadilan, tekanan psikologis, dan isolasi sosial.
Meskipun korbannya tampak “baik-baik saja”, perbuatan tersebut tetap salah. Dan harus dihentikan.
Banyak dari kita mahasiswa, pelajar, bahkan orang dewasa sering hanya menjadi penonton diam dalam kejadian seperti ini. Kita tahu ada yang salah, tapi tidak ingin “ikut campur”. Padahal, diam adalah bentuk persetujuan yang paling berbahaya.
Satu hal yang harus kita camkan, Bullying bukan soal siapa yang kuat atau siapa yang tersinggung. Ini tentang menciptakan ruang sosial yang sehat, adil, dan mendukung setiap individu tumbuh sesuai potensinya tanpa tekanan, tanpa gengsi, dan tanpa rasa takut dikucilkan. Jangan tunggu seseorang merasa tersakiti.
Facebook : https://www.facebook.com/unusaofficialfb
https://www.instagram.com/unusa_official/
Youtube : https://www.youtube.com/@unusa_official
Twitter ( X ) : https://x.com/unusa_official?lang=en
Tiktok : https://www.tiktok.com/@unusa_official
terimakasih dari saya Indah Syafira Firdaus dari Fakultas Kesehatan, Prodi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
ku jungi juga blog teman saya : https://naylaaulyaputri.blogspot.com/

Komentar
Posting Komentar